PRESS RELEASE MALAYSIA’S PAYHALAL TO PROVIDE SHARIAH-COMPLIANT E-COMMERCE PLATFORMS & SERVICES TO BRUNEI’s MULTIPRO RESOURCES

Bandar Seri Begawan, 10 November 2019: PayHalal, the Shariah-compliant payment gateway by Souqa Fintech Sdn Bhd has today signed a Strategic Alliance Agreement with Brunei-based Multipro Resources Sdn Bhd (MRSB), here on the sideline of the Business Council Tertiary Industry Showcase 2019.

Through this agreement, PayHalal will provide the necessary Shariah – compliant e-commerce platforms for MRSB and its group of companies to operate their diverse investments. These include Halal endeavours in the supply chain facilitation, certifications and compliances, financial services, online and offline trade hubs and marketing, as well as marts and convenience stores.

The businesses under this agreement will cover the areas of Brunei, Federal Territory of Labuan, Brunei-Indonesia-Malaysia-Philippines East Asean Growth Area (BIMP-EAGA), Asean and Asean+3.

The agreement was signed between Ja’afar Rihan, Chief Executive Officer (Asia Pacific) of Souqa Fintech and Dato Sri Hanis Adenan, Chief Excutive Officer of MRSB. It was witnessed by Pengiran Yura Kesteria Pengiran Mohd Yusuf, Excutive Chairman of the BIMP-EAGA Brunei Business Council.

Ja’afar Raihan said, “PayHalal and MRSB has mutually agreed to form an alliance to tap on each other’s strength. We hope to be of assistance to MRSB in providing Shariah-compliant e-commerce platforms and services that will give both businesses and customers, especially but not limited to Muslims, a peace of mind in their everyday dealings.”

“We in turn, also hope to be able to stretch our wings, as the world’s first Shariah-compliant payment gateway, and tap into other markets beyond Asean’s consumer base in the foreseeable future.”

Embargoed For

5.00pm (Sunday, 10/11/19)

“Already this agreement allows us to penetrate the Asean+3 markets of China, Japan and South Korea. We are confident of more traders seeing the benefit and potential of having business transactions via online Islamic platforms, which will naturally appeal to the growing Muslim consumer base worldwide,” he said.

___________________________________________________________________________________________

About Souqa Fintech Sdn Bhd

Souqa Fintech Sdn Bhd is an Islamic financial technology firm which aims to help Muslim entrepreneurs and customers comply with the Shariah law in trade, without any apprehension (was-was).

Formoreinformation,pleasevisit: https://payhalal.my/company About Multipro Resources Sdn Bhd

MRSB is a special purpose vehicle for the United Nations World Rehabilitation Organisation (UNWRO) which raises capitals to undertake mandated projects not only in the areas of Brunei-Indonesia-Malaysia-Philippines East Asean Growth Area (BIMP-EAGA) and Asean, but also viable special projects worldwide.

For more information, please visit: http://unwro-mpro.com

Issued by Souqa Fintech Sdn Bhd

For media enquiries, please contact:

Muhammad Sulwan Mohamed Subhan

email:wan@payhalal.my

Sebab Datang dan Hilangnya Hidayah

Dikarenakan inti dan hakikat hidayah adalah taufik dari Allah Ta’ala, sebagaimana pada penjelasan sebelumnya, maka berdoa dan memohon hidayah kepada Allah Ta’ala merupakan sebab yang paling utama untuk mendapatkan hidayah-Nya. Dalam hadits Qudsi yang shahih, Allah Ta’ala berfirman: “Wahai hamba-hamba-Ku, kalian semua tersesat kecuali orang yang Aku beri petunjuk, maka mintalah petunjuk kepada-Ku niscaya Aku akan berikan petunjuk kepada kalian1.

Oleh karena itu, Allah Ta’ala yang maha sempurna rahmat dan kebaikannya, memerintahkan kepada hamba-hamba-Nya untuk selalu berdoa memohon hidayah taufik kepada-Nya, yaitu dalam surah Al Fatihah:

{اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ}

Berikanlah kepada kami hidayah ke jalan yang lurus”.

Syaikh ‘Abdur Rahman as-Sa’di berkata: “Doa (dalam ayat ini) termasuk doa yang paling menyeluruh dan bermanfaat bagi manusia, oleh karena itu, wajib bagi setiap muslim untuk berdoa kepada-Nya dengan doa ini di setiap rakaat dalam shalatnya, karena kebutuhannya yang sangat besar terhadap hal tersebut”2.

Dalam banyak hadits yang shahih, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam mengajarkan kepada kita doa memohon hidayah kepada Allah Ta’ala. Misalnya doa yang dibaca dalam qunut shalat witir:

(( اللَّهُمَّ اهْدِنَا فِيمَنْ هَدَيْت))

Ya Allah, berikanlah hidayah kepadaku di dalam golongan orang-orang yang Engkau berikan hidayah3.

Juga doa beliau Shallallahu’alaihi Wasallam:

(( اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى، وَالْعِفَّةَ وَالْغِنَى ))

Ya Allah, aku memohon kepada-Mu petunjuk, ketakwaan, penjagaan diri (dari segala keburukan) dan kekayaan hati (selalu merasa cukup dengan pemberian-Mu)4.

Sebaliknya, keengganan atau ketidaksungguhan untuk berdoa kepada Allah Ta’ala memohon hidayah-Nya merupakan sebab besar yang menjadikan seorang manusia terhalangi dari hidayah-Nya.

Oleh karena itu, Allah Ta’ala sangat murka terhadap orang yang enggan berdoa dan memohon kepada-Nya, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam: “Sesungguhnya barangsiapa yang enggan untuk memohon kepada Allah maka Dia akan murka kepadanya5.

Hal-hal lain yang menjadi sebab datangnya hidayah Allah Ta’ala selain yang dijelaskan di atas adalah sebagai berikut:

1. Tidak bersandar kepada diri sendiri dalam melakukan semua kebaikan dan meninggalkan segala keburukan

Artinya selalu bergantung dan bersandar kepada Allah Ta’ala dalam segala sesuatu yang dilakukan atau ditinggalkan oleh seorang hamba, serta tidak bergantung kepada kemampuan diri sendiri.

Ini merupakan sebab utama untuk meraih taufik dari Allah Ta’ala yang merupakan hidayah yang sempurna, bahkan inilah makna taufik yang sesungguhnya sebagaimana yang dijelaskan oleh para ulama Ahlus sunnah.

Coba renungkan pemaparan Imam Ibnul Qayyim berikut ini: “Kunci pokok segala kebaikan adalah dengan kita mengetahui (meyakini) bahwa apa yang Allah kehendaki (pasti) akan terjadi dan apa yang Dia tidak kehendaki maka tidak akan terjadi. Karena pada saat itulah kita yakin bahwa semua kebaikan (amal shaleh yang kita lakukan) adalah termasuk nikmat Allah (karena Dia-lah yang memberi kemudahan kepada kita untuk bisa melakukannya), sehingga kita akan selalu mensyukuri nikmat tersebut dan bersungguh-sungguh merendahkan diri serta memohon kepada Allah agar Dia tidak memutuskan nikmat tersebut dari diri kita. Sebagaimana (kita yakin) bahwa semua keburukan (amal jelek yang kita lakukan) adalah karena hukuman dan berpalingnya Allah dari kita, sehingga kita akan memohon dengan sungguh-sungguh kepada Allah agar menghindarkan diri kita dari semua perbuatan buruk tersebut, dan agar Dia tidak menyandarkan (urusan) kita dalam melakukan kebaikan dan meninggalkan keburukan kepada diri kita sendiri.

Telah bersepakat Al ‘Aarifun (orang-orang yang memiliki pengetahuan yang dalam tentang Allah dan sifat-sifat-Nya) bahwa asal semua kebaikan adalah taufik dari Allah Ta’ala kepada hamba-Nya, sebagaimana asal semua keburukan adalah khidzlaan (berpalingnya) Allah Ta’ala dari hamba-Nya. Mereka juga bersepakat bahwa (makna) taufik itu adalah dengan Allah tidak menyandarkan (urusan kebaikan/keburukan) kita kepada diri kita sendiri, dan (sebaliknya arti) al khidzlaan (berpalingnya Allah Ta’ala dari hamba) adalah dengan Allah membiarkan diri kita (bersandar) kepada diri kita sendiri (tidak bersandar kepada Allah Ta’ala)”6.

Inilah yang terungkap dalam doa yang diucapkan oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam: “(Ya Allah), jadikanlah baik semua urusanku dan janganlah Engkau membiarkan diriku bersandar kepada diriku sendiri (meskipun cuma) sekejap mata”7.

Oleh karena inilah makna dan hakikat taufik, maka kunci untuk mendapatkannya adalah dengan selalu bersandar dan bergantung kepada Allah Ta’ala dalam meraihnya dan bukan bersandar kepada kemampuan diri sendiri.

Imam Ibnul Qayyim berkata: “Kalau semua kebaikan asalnya (dengan) taufik yang itu adanya di tangan Allah (semata) dan bukan di tangan manusia, maka kunci (untuk membuka pintu) taufik adalah (selalu) berdoa, menampakkan rasa butuh, sungguh-sungguh dalam bersandar, (selalu) berharap dan takut (kepada-Nya). Maka ketika Allah telah memberikan kunci (taufik) ini kepada seorang hamba, berarti Dia ingin membukakan (pintu taufik) kepadanya.Dan ketika Allah memalingkan kunci (taufik) ini dari seorang hamba, berarti pintu kebaikan (taufik) akan selalu tertutup baginya”8.

2. Selalu mengikuti dan berpegang teguh dengan agama Allah Ta’ala secara keseluruhan lahir dan batin

Allah Ta’ala berfirman:

{فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِنِّي هُدًى فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلا يَضِلُّ وَلا يَشْقَى}

Maka jika datang kepadamu (wahai manuia) petunjuk daripada-Ku, lalu barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, maka dia tidak akan tersesat dan tidak akan sengsara (dalam hidupnya)” (QS Thaahaa: 123).

Ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa orang yang mengikuti dan berpegang teguh dengan petunjuk Allah Ta’ala yang diturunkan-Nya kepada Rasul-Nya Ta’ala, dengan mengikuti semua perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, maka dia tidak akan tersesat dan sengsara di Dunia dan Akhirat, bahkan dia selalu mendapat bimbingan petunjuk-Nya, kebahagiaan dan ketentraman di Dunia dan Akhirat9.

Dalam ayat lain, Allah Ta’ala berfirman:

{وَالَّذِينَ اهْتَدَوْا زَادَهُمْ هُدًى وَآتَاهُمْ تَقْوَاهُمْ}

Dan orang-orang yang selalu mengikuti petunjuk (agama Allah Ta’ala) maka Allah menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan kepada mereka (balasan) ketaqwaannya” (QS Muhammad: 17).

3. Membaca al-Qur-an dan merenungkan kandungan maknanya

Allah Ta’ala berfirman:

{إِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا كَبِيرًا}

Sesungguhnya al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang paling lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang Mu’min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar” (QS al-Israa’: 9).

Imam Ibnu Katsir berkata: “(Dalam ayat ini) Allah Ta’ala memuji kitab-Nya yang mulia yang diturunkan-Nya kepada Rasul-Nya Ta’ala, yaitu al-Qur-an, bahwa kitab ini memberikan petunjuk kepada jalan yang paling lurus dan jelas”10.

Maksudnya: yang paling lurus dalam tuntunan berkeyakinan, beramal dan bertingkah laku, maka orang yang selalu membaca dan mengikuti petunjuk al-Qur-an, dialah yang paling sempurna kebaikannya dan paling lurus petunjuknya dalam semua keadaannya11.

4.Mentaati dan meneladani sunnah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam

Allah Ta’ala menamakan wahyu yang diturunkan-Nya kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam sebagai al-huda (petunjuk) dan dinul haq (agama yang benar) dalam firman-Nya:

{هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ وَكَفَى بِاللَّهِ شَهِيدًا}

Dialah (Allah Ta’ala) yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar dimenangkan-Nya terhadap semua agama, dan cukuplah Allah sebagai saksi” (QS al-Fath: 28).

Para ulama Ahli Tafsir menafsirkan al-huda (petunjuk) dalam ayat ini dengan ilmu yang bermanfaat dan dinul haq (agama yang benar) dengan amal shaleh12.

Ini menunjukkan bahwa sunnah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam adalah sebaik-baik petunjuk yang akan selalu membimbing manusia untuk menetapi jalan yang lurus dalam ilmu dan amal.

Dalam hadits yang shahih, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Sesungguhnya sebenar-benar ucapan adalah kitab Allah (al-Qur-an), sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, dan seburuk-buruk perkara adalah perkara-perkara yang diada-adakan (baru dalam agama)13.

Inilah makna firman Allah Ta’ala:

{لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا}

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (balasan kebaikan pada) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah” (QS al-Ahzaab:21).

5. Mengikuti pemahaman dan pengamalan para Shahabat Radhiallahu’anhum dalam beragama

Allah Ta’ala berfirman:

{فَإِنْ آمَنُوا بِمِثْلِ مَا آمَنْتُمْ بِهِ فَقَدِ اهْتَدَوْا وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا هُمْ فِي شِقَاقٍ}

Jika mereka beriman seperti keimanan yang kalian miliki, maka sungguh mereka telah mendapat petunjuk; dan jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam perpecahan” (QS al-Baqarah: 137).

Ayat ini menunjukkan kewajiban mengikuti pemahaman para Shahabat Radhiallahu’anhum dalam keimanan, ibadah, akhlak dan semua perkara agama lainnya, karena inilah sebab untuk mendapatkan petunjuk dari Allah Ta’ala. Para Shahabat Radhiallahu’anhum adalah yang pertama kali masuk dalam makna ayat ini, karena merekalah orang-orang yang pertama kali memiliki keimanan yang sempurna setelah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam14.

6. Meneladani tingkah laku dan akhlak orang-orang yang shaleh sebelum kita

Allah Ta’ala berfirman:

{أُولَئِكَ الَّذِينَ هَدَى اللَّهُ فَبِهُدَاهُمُ اقْتَدِهِ}

Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka” (QS al-An’aam: 90).

Dalam ayat ini Allah Ta’ala memerintahkan kepada Nabi Muhammad Ta’ala untuk meneladani petunjuk para Nabi ‘alaihimussalam yang diutus sebelum beliau Ta’ala, dan ini juga berlaku bagi umat Nabi Muhammad Ta’ala15.

7. Mengimani takdir Allah Ta’ala dengan benar

{مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ}

Tidak ada sesuatu musibahpun yang menimpa (seseorang) kecuali denga izin Allah; Dan barang siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk ke (dalam) hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu” (QS at-Taghaabun:11).

Imam Ibnu Katsir berkata: “Makna ayat ini: seseorang yang ditimpa musibah dan dia meyakini bahwa musibah tersebut merupakan ketentuan dan takdir Allah, sehingga dia bersabar dan mengharapkan (balasan pahala dari Allah Ta’ala), disertai (perasaan) tunduk berserah diri kepada ketentuan Allah tersebut, maka Allah akan memberikan petunjuk ke (dalam) hatinya dan menggantikan musibah dunia yang menimpanya dengan petunjuk dan keyakinan yang benar dalam hatinya, bahkan bisa jadi Dia akan menggantikan apa yang hilang darinya dengan yang lebih baik baginya”16.

8. Berlapang dada menerima keindahan Islam serta meyakini kebutuhan manusia lahir dan batin terhadap petunjuknya yang sempurna

Allah Ta’ala berfirman:

{فَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يَهدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلإسْلامِ وَمَنْ يُرِدْ أَنْ يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا حَرَجًا كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِي السَّمَاءِ كَذَلِكَ يَجْعَلُ اللَّهُ الرِّجْسَ عَلَى الَّذِينَ لا يُؤْمِنُونَ}

Barangsiapa yang Allah kehendaki untuk Allah berikan petunjuk kepadanya, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (menerima agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki kelangit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman” (QS al-An’aam: 125).

Ayat ini menunjukkan bahwa tanda kebaikan dan petunjuk Allah Ta’ala bagi seorang hamba adalah dengan Allah Ta’ala menjadikan dadanya lapang dan lega menerima Islam, maka hatinya akan diterangi cahaya iman, hidup dengan sinar keyakinan, sehingga jiwanya akan tentram, hatinya akan mencintai amal shaleh dan jiwanya akan senang mengamalkan ketaatan, bahkan merasakan kelezatannya dan tidak merasakannya sebagai beban yang memberatkan17.

9. Bersungguh-sungguh dalam menempuh jalan Allah Ta’ala dan selalu berusaha mengamalkan sebab-sebab yang mendatangkan dan meneguhkan hidayah Allah Ta’ala

Allah Ta’ala berfirman:

{وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ}

Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar bersama orang-orang yang berbuat kebaikan” (QS al-‘Ankabuut: 69).

Imam Ibnu Qayyimil Jauziyah berkata: “(Dalam ayat ini) Allah Ta’ala menggandengkan hidayah (dari-Nya) dengan perjuangan dan kesungguhan (manusia), maka orang yang paling sempurna (mendapatkan) hidayah (dari Allah Ta’ala) adalah orang yang paling besar perjuangan dan kesungguhannya”18.

Demikianlah pemaparan ringkas tentang sebab-sebab datangnya hidayah Allah Ta’ala, dan tentu saja kebalikan dari hal-hal tersebut di atas itulah yang merupakan sebab-sebab hilangnya/tercabutnya hidayah Allah Ta’ala, semoga Allah Ta’ala melindungi kita dari segala keburukan dan fitnah.

Penutup

Semoga tulisan ini bermanfaat dan menjadi motivasi bagi kita semua untuk lebih semangat mengusahakn sebab-sebab datangnya hidayah dari Allah Ta’ala.

Akhirnya kami akhiri tulisan ini dengan memohon kepada Allah Ta’ala dengan semua nama-Nya yang maha indah dan sifat-Nya yang maha sempurna, agar Dia Ta’ala senantiasa melimpahkan, menyempurnakan dan menjaga taufik-Nya kepada kita semua sampai kita berjumpa dengan-Nya di surga-Nya kelak, sesungguhnya Dia Ta’ala maha mendengar lagi maha mengabulkan doa.

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

Abdullah Taslim, Lc., MA.

Konsep Kafalah Dalam kewangan Islam

KAFALAH menurut Islam membawa maksud jaminan dan tanggungan. Ia juga disebut sebagai dhamanah. Secara jelasnya, kafalah membawa maksud sebarang bentuk jaminan yang diberikan oleh pemberi/penanggung jaminan (kafil) kepada pihak ketiga atas kewajipan yang harus ditunaikan pihak yang ditanggung/dijamin (makful anhu). Menurut ulama terdahulu, jaminan boleh melibatkan harta dan diri pihak penjamin.

Sebagai contoh jaminan yang melibatkan harta si penjamin seperti dalam konteks berhutang. Kebiasaannya, pihak lain boleh menjamin penghutang dalam membayar hutangnya kepada pemiutang.Dalam kes kemungkiran oleh pihak penghutang, maka pihak penjamin hendaklah membayar hutang tersebut bagi pihak penghutang. Jaminan yang tidak melibatkan harta tetapi diri si penjamin adalah seperti dalam konteks pendakwaan iaitu si tertuduh dengan jaminan orang lain. Sekiranya, beliau tidak hadir dalam perbicaraan maka si penjamin hendaklah bertanggungjawab.

Amalan kafalah dianjurkan oleh Islam sebagai salah satu perbuatan yang mulia. Ia sebagaimana dinyatakan dalam beberapa ayat al-Quran Surat Yusuf ayat 66 berbunyi:

“Bapa mereka berkata: ‘Aku tidak sekali-kali akan melepaskan dia (Bunyamin) pergi bersama- sama kamu, sehingga kamu memberi kepadaku satu perjanjian yang teguh (bersumpah) dengan nama Allah, bahawa kamu akan membawanya kembali kepadaku dengan selamat, kecuali jika kamu semua dikepong dan dikalahkan oleh musuh.’ Maka, ketika mereka memberikan perjanjian yang teguh (bersumpah) kepadanya, berkatalah dia: ‘Allah jualah yang menjadi saksi dan pengawas atas apa yang kita semua katakan itu’.”

Hutang

Jabir RA telah meriwayatkan bahawa: “Seorang lelaki meninggal dunia dan kami telah memandikannya dengan bersih, kemudian mengkafankan lalu dibawa kepada Rasulullah SAW. Kami bertanya kepada beliau: “Apakah Rasulullah akan mengerjakan solat jenazah ke atasnya?” Rasulullah bertanya: “Apakah beliau mempunyai hutang?” Kami menjawab: “Ya, sebanyak dua dinar.” Kemudian Rasulullah berlalu dari situ. Maka, berkatalah Abu Qatadah: “Hutangnya sebanyak dua dinar itu menjadi tanggungjawabku.”

Lantas Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah telah menunaikan hak orang yang memberi hutang dan si mati akan terlepas daripada tanggungjawabnya (hutang).” Rasulullah lalu mengerjakan solat ke atas jenazah tersebut. Maka, pada keesokan harinya Rasulullah bertanyakan kepada Abu Qatadah tentang dua dinar itu dan Abu Qatadah menjelaskan bahawa beliau telah melangsaikan hutang jenazah tersebut. Rasulullah SAW bersabda: “Sekarang kulitnya telah menjadi sejuk.” (Hadis Riwayat Al- Bukhari)

Berdasarkan kepada dalil-dalil di atas dapat dirumuskan bahawa amalan kafalah adalah dituntut dalam Islam kerana ia boleh meringankan beban pihak yang tidak mampu melangsaikan tanggungjawab seperti hutang.

Fuqaha-fuqaha terdahulu mengkategorikan kafalah sebagai salah satu kontrak tabarru`at (kebajikan) seperti hibah dan wakalah.Kategori kontrak sedemikian bertujuan untuk menolong dan meringankan kesusahan pihak tertentu tanpa mengharapkan sebarang balasan. Dalam sistem perbankan Islam, kebiasaannya konsep ini digunakan oleh pihak bank untuk menjamin hutang atau prestasi pelanggannya kepada pihak lain. Sekiranya pelanggan gagal memenuhi hutangnya atau mencapai prestasi sebagaimana dijanjikan, pihak bank akan bertanggungjawab bagi pihak pelanggan tersebut.

Satu kelainan yang terhasil di sini adalah kerana pihak pelanggan terpaksa membayar jumlah tertentu untuk memperoleh jaminan daripada pihak bank. Ini kerana, bank tidak mampu menanggung risiko untuk menjamin pelanggan membayar atau memenuhi obligasi tertentu maka, bayaran dalam konsep kafalah dikenakan.

Kebajikan

Justeru, telah timbul isu syariah apabila konsep kafalah berasaskan kebajikan tetapi mempunyai balasan tertentu seperti bayaran untuk mendapatkan jaminan. Sebagaimana maklum, fuqaha terdahulu bersepakat bahawa konsep kafalah tidak boleh dikenakan sebarang bayaran atau balasan atas dasar berbuat kebaikan dan taqarrub kepada Allah. Namun, terdapat sebahagian fuqaha kontemporari seperti Sheikh Nazih Hammad yang mengharuskan pengenaan bayaran kepada jaminan.

Di samping itu, pandangan itu disokong oleh Majlis Penasihat Syariah Bank Negara dan Suruhanjaya Sekuriti yang membenarkan praktis mengenakan bayaran pada sebarang jaminan. Ini berdasarkan maslahah dan keperluan semasa serta kesukaran untuk memperoleh jaminan daripada pihak lain secara sukarela dalam konteks semasa kecuali menerusi cara pengenaan bayaran. Keharusan ini boleh diqiyaskan kepada keharusan mengenakan bayaran untuk rawatan perubatan dengan menggunakan kaedah Islam (ruqyah Syar’iyyah) iaitu menerusi bacaan ayat-ayat al-Quran.

Justeru, memandangkan tujuan kedua-dua konsep ini adalah sama iaitu berbuat baik kepada orang lain dan taqarrub kepada Allah, maka mengambil kira keharusan ini, pengenaan bayaran untuk jaminan juga adalah diharuskan dalam syariah. Pada masa kini, dalam memenuhi tuntutan pelanggan terdapat jaminan, pihak institusi kewangan Islam telah menawarkan beberapa produk jaminan berdasarkan konsep kafalah antaranya, produk Jaminan Bank dan Jaminan Penghantaran.

The Jakim,Murray Fake News

JAKIM ingin merujuk kepada penulisan Murray Hunter dalam artikel bertajuk Malaysia Halal Crisis di laman sesawang Asia Sentinel bertarikh 10 Oktober 2019 berikutan tuduhan berlakunya isu intergriti dan kompetensi pegawai dalam proses Pensijilan Halal Malaysia yang juga turut tular di media sosial.

JAKIM komited untuk memastikan Pensijilan Halal Malaysia berjalan berlandaskan undang-undang dan mematuhi segala peraturan yang berkuatkuasa dan tidak akan sama sekali berkompromi dalam isu berkaitan integriti. JAKIM menafikan pertuduhan yang dibuat oleh Murray Hunter berkaitan pegawai JAKIM meminta bayaran sebanyak RM50,000 bagi tujuan pendaftaran premis pemprosesan daging halal di Kuala Lumpur.

JAKIM mempunyai mekanisma kawalan dan mengamalkan sistem integriti yang tinggi dan telus bagi mengelakkan berlakunya amalan rasuah di kalangan pegawai dan kakitangannya. Mekanisma ini termasuklah kerjasama yang rapat dengan Suruhanjaya Pencegahan Rasuah Malaysia (SPRM) di samping penempatan pegawai SPRM secara sepenuh masa di bahagian yang berisiko tinggi berlakunya rasuah.

Oleh yang demikian, JAKIM menyeru semua pihak termasuk penulis untuk tampil mengemukakan bukti dengan penuh rasa tanggungjawab bagi diteliti dan bersedia mengambil tindakan yang sewajarnya berlandaskan undang-undang. Isu ini yang amat serius kerana ianya boleh menyebabkan reputasi Halal Malaysia tercemar dengan fitnah dan tuduhan yang tidak berasas.

Sekian

*DATUK MOHAMAD NORDIN IBRAHIM*

*KETUA PENGARAH*

*JABATAN KEMAJUAN* *ISLAM MALAYSIA*

*12 Oktober 2019*

REBUTTAL STATEMENT BY DEPARTMENT OF ISLAMIC DEVELOPMENT MALAYSIA TO THE ARTICLE BY MURRAY HUNTER ON “THE MALAYSIA’S HALAL CRISIS”  

 

Reference is made to the recent statement by Murray Hunter, in an article published by Asia Sentinel on October 10, 2019. The report had alleged that there is a lack of integrity and competency of personnel in Malaysia’s Halal certification process which has now gone viral in the social media.

 

JAKIM is committed to ensuring that the Malaysian Halal certification process is conducted in accordance with established laws and complies with all applicable regulations. JAKIM will not compromise on issues related to integrity, including bribery and corruption. Henceforth, JAKIM refutes the allegation made by Murray Hunter concerning a JAKIM official seeking a RM50,000 bribe for the purpose of registering a halal choice meat cut butchery in Kuala Lumpur.

 

JAKIM has a mechanism of control and adopts a high standard and transparent system of integrity together with a code of conduct to prevent the practice of bribery and corruption among its officers and employees. This mechanism includes close cooperation with the Malaysian Anti-Corruption Commission (MACC) as well as the full-time placement of MACC officers in areas with a high risk of corruption occurring.

 

Therefore, JAKIM urges all parties, including the author, to come forward with the utmost sense of responsibility and present concrete evidence to be examined by the authority. We are prepared to take appropriate action in line with the established laws and regulations. We regard this matter seriously as we do not wish forMalaysia’s Halal reputation to be tarnished by slander and baseless accusations.

 

DATUK MOHAMAD NORDIN IBRAHIM

DIRECTOR GENERAL

DEPARTMENT OF ISLAMIC DEVELOPMENT MALAYSIA
12 October 2019

 

Your charity has it’s reward.

The Meaning of Sadaqa (Infaq)

Besides zakat, Muslims are strongly encouraged to contribute Sadaqa (non-obligatory charity). The world sadaqa comes from the word sidq (sincerity), i.e. it is a sign of sincerity of faith on the part of the person who gives it.

While the word infaq has a very broad meaning, all kind of expenditures for the sake of Allah without asking for any favour or hoping for a return constitutes its general meaning. The word nafaqa comes from the same root, and it means alimony.

Sadaqa means worshipping Allah by giving wealth without that being made obligatory in the Islamic law. However, depending on the context, the word sadaqa is sometimes used to refer to obligatory zakat as well.

Infaq can be for family’s father expenses for the wife and children, also it can be for the poor and the needy.

With regard to the difference between zakat and sadaqa (infaq), it is as follows:

  • Zakat is enjoined in Islam on specific things, which are: gold, silver, crops, fruits, trade goods and animal livestock, i.e., camels, cattle and sheep.
  • With regard to sadaqa, it is not obligatory on any kind of wealth, rather it is what a person can give, without any specific limits or guidelines.
  • Zakat is subject to the conditions that one full Hijri have passed since acquiring the wealth, and that the wealth meets the minimum threshold (nisaab), and it is a specific portion of wealth.
  • Sadaqa is not subject to any conditions, and it may be given at any time, in any amount.
  • Allah has enjoined that zakat be given to certain types of people, and it is not permissible to give it to anyone else.
  • With regard to sadaqa, it may be given to those mentioned in the verse on zakat and to others.
  • Whoever dies and owes zakat, his heirs must pay it from his wealth, and that takes precedence over the will (wasiyah) and inheritance.
  • As for sadaqa, there are no such obligations with regard to it.
  • The one who withholds zakat is to be punished,
  • With regard to sadaqa, the one who does not pay it will not be punished.
  • According to the four schools of law, it is not permissible to give zakat to one’s ascendants or descendents. Ascendants include one’s mother, father, grandfathers and grandmothers; descendents include one’s children and their children.
  • Sadaqa may be given to one’s ascendants and descendants.
  • It is not permissible to give zakat to one who is rich or who is strong and able to earn a living.
  • Sadaqa may be given to those who are rich and those who are strong and able to earn
  • In the case of zakat, it is better for it to be taken from the rich of a land and given to their poor. Many scholars are of the view that it is not permissible to send it to another country unless that serves an interest
  • But charity may be spent on those who are near and those who are far.
  • It is not permissible to give zakat to kuffaar and mushrikeen.
  • Sadaqa may be given to kuffaar and mushrikeen.
  • It is not permissible for a Muslim to give zakat to his wife.
  • But sadaqa may be given to one’s wife.

The word sadaqa may be applied to all kinds of good deeds. Al-Bukhaari (may Allah have mercy on him) said in his Saheeh: “Chapter: every good deed is a charity” then he narrated from Jaabir ibn ‘Abd-Allaah (may Allaah be pleased with him) that the Prophet (peace and blessings of Allaah be upon him) said: “Every good deed is a charity.”

Ibn Battaal said: This hadeeth indicates that every good thing that a person does or says is recorded for him as an act of charity.

Al-Nawawi said: The Prophet’s words “Every good deed is a charity” means that it is like charity in reward.

Akad jual beli

Konsep Akad dan Jenisnya dalam Muamalat Islam

Akad sahih ialah kontrak yang sempurna semua rukun dan syarat yang ditetapkan syarak dan tidak ada sebarang unsur dan sifat meragukan yang boleh mengeluarkannya dari dikira sah dari segi pensyariatannya. Hukum kontrak ini ialah sah dan sabit kesannya serta-merta sebaik sahaja selesai ijab dan qabul jika tidak ada khiyar dalam jual beli.

Oleh: Abdul Muhaimin Mahmood
Penolong Pengarah
Cawangan Muamalat dan Sosio Ekonomi (CMSE)
Bahagian Perancangan dan Penyelidikan, Jakim

Akad dari sudut penggunaan bahasa Arab mempunyai makna yang pelbagai antaranya, janji, jaminan, kepercayaan dan ikatan (sama ada ikatan sebenar seperti mengikat tali atau ikatan simbolik seperti ikatan ijab dan qabul dalam akad jual-beli). Manakala Kamus Dewan pula memberikan pengertian akad sebagai janji dan perjanjian. Perkataan akad merupakan perkataan yang sinonim dengan perkataan kontrak.

Akad dari istilah fiqh ialah ikatan di antara ijab dan qabul yang dibuat mengikut cara yang disyariatkan yang sabit kesannya pada barang berkenaan. Dengan perkataan lain akad melibatkan pergantungan cakapan salah satu pihak yang berakad dengan cakapan pihak yang satu lagi, mengikut ketentuan syarak yang akan melahirkan kesan pada barang yang diakadkan. (al-Zuhaily,Wahbah, 2002, Fiqh & perundangan Islam, pent. Md. Akhir Haji Yaacob, Dewan Bahasa dan Pustaka, jld.4, hlm.83). Dari aspek undang-undang pula, kontrak didefinisikan sebagai semua perjanjian adalah kontrak jika dibuat atas kerelaan bebas pihak-pihak yang layak membuat kontrak, untuk sesuatu balasan yang sah, dan dengan sesuatu tujuan yang sah (Akta Kontrak, seksyen 10 (1)).

Akad terbahagi kepada beberapa bahagian mengikut perbezaan sudut pandangan. Antaranya ialah pembahagian akad mengikut sifatnya dari aspek syarak, dan dari aspek ada atau tidak ada kesannya kepada akad yang dimenterai.

1. Pembahagian akad mengikut sifatnya dari aspek syarak, terbahagi kepada beberapa jenis iaitu sahih (صحيح) , batil(باطل), nafiz (نافذ), mauquf  (موقوف), lazim (لازم) dan ja’iz (جائز).

  • Akad sahih ialah kontrak yang sempurna semua rukun dan syarat yang ditetapkan syarak dan tidak ada sebarang unsur dan sifat meragukan yang boleh mengeluarkannya dari dikira sah dari segi pensyariatannya. Hukum kontrak ini ialah sah dan sabit kesannya serta-merta sebaik sahaja selesai ijab dan qabul jika tidak ada khiyar dalam jual beli.
  • Akad batil ialah kontrak yang tidak sempurna (cacat) syarat dan rukunnya. Hukum kontrak seperti ini ialah tidak sah dan tidak melahirkan sebarang kesan sedikit pun.
  • Akad nafiz ialah kontrak yang terbit dari seseorang yang mempunyai kelayakan dan kuasa untuk melakukannya. Hukumnya ialah kontrak seperti ini menerbitkan kesan segera sebaik sahaja ia dibuat, tanpa tertakluk kepada kelulusan dan keizinan seseorang.
  • Akad mauquf ialah kontrak yang terbit dari seseorang yang mempunyai kelayakan untuk berkontrak, tetapi dia tidak mempunyai kuasa untuk melakukannya seperti kontrak yang dilakukan oleh kanak-kanak yang mumaiyiz bagi kontrak yang ada risiko untung dan rugi. Hukumnya ialah kontrak ini tidak boleh melahirkan sebarang kesan melainkan setelah mendapat kelulusan dan persetujuan oleh pemilik hak yang berkuasa melakukannya. Jika pemilik hak tidak mempersetujui atau meluluskannya maka kontrak itu menjadi batal.
  • Akad lazim ialah kontrak yang tidak membolehkan salah satu pihak yang memeterai kontak membatalkannya tanpa persetujuan pihak yang lagi satu seperti kontrak sewa dan jual beli.
  • Akad jaiz ialah kontrak yang membolehkan salah satu pihak yang berkontrak membatalkannya tanpa sebarang persetujuan pihak yang lagi satu seperti kontrak wakalah.

2. Pembahagian akad dari aspek ada atau tidak ada kesannya terhadap akad yang dibuat pula terbahagi kepada munjiz(منجز), muallaq (معلق) dan mustaqbali (مستقبلى).

  • Akad munjiz ialah kontrak yang dibuat dengan lafaz yang tidak digantungkan dengan sebatang syarat dan tidak disandarkan pelaksanaannya pada masa hadapan. Kontrak seumpama ini menerbitkan kesan segera ke atas kontrak sebaik sahaja ia dibentuk.
  • Akad muallaq ialah kontrak yang dikaitkan kewujudannya dengan wujudnya sesuatu yang lain. Sekiranya wujud perkara tersebut maka wujudlah kontrak, jika sebaliknya maka tidak berlakulah kontrak. Sebagai contoh si polan A berkata kepada si polan B, “jika aku jadi keluar negara maka engkaulah menjadi wakil ku”. Kontrak seumpama ini tidak akan terbentuk melainkan adanya syarat yang dikaitkan itu.
  • Akad mustaqbali ialah kontrak yang dibuat dengan lafaz penerimaan disandarkan pada masa yang akan datang. Hukum kontrak ini ia akan berlaku atau terbentuk segera, tetapi kesannya tidak ada kecuali pada waktu yang ditetapkan itu, iaitu waktu yang disandarkan berlaku. (al-Zuhaily,Wahbah, Fiqh & perundangan Islam, jld.4, hlm.235-248 dan al-Banhawi, Mohd Abdul Fatah, 1999, Fiqh al-Muamalat Dirasah Muqaranah, Jamiah al-Azhar, Tanta, hlm.11-14.)

Akad jual beli dan jenis-jenisnya

Perkataan al-bai’ (jual beli) dari aspek bahasa bermaksud menukar suatu barang dengan suatu barang yang lain. Dari sudut istilah syarak pula, al-bai’ mempunyai banyak pengertian yang diberikan para ulama. Menurut Mazhab Hanafi, jual beli ialah pertukaran suatu harta dengan suatu harta yang lain mengikut cara yang tertentu. Atau menukar sesuatu yang disukai dengan sesuatu yang lain yang juga disukai dengan dengan cara tertentu yang berfaedah iaitu dengan tawaran atau unjuk-mengunjuk. Menurut mazhab Syafie, jual beli ialah pertukaran sesuatu harta benda dengan harta benda yang lain, yang keduanya boleh ditasharrufkan (dikendalikan), dengan ijab dan qabul menurut cara yang diizinkan oleh syarak (al-Husaini, Abi Bakr ibn Muhammad, 2005, Kifayatul akhyar fi halli ghayat al-ikhtisar, Dar al-Salam, al-Qahirah, Misr, hlm.305). Al-Bai’ juga adalah kontrak pertukaran harta benda yang memberikan seseorang hak memiliki sesuatu benda atau manfaat untuk selama-lamanya, bukan dengan tujuan al-qurbah (mendampingi diri kepada Allah) (Mughni al-muhtaj, jld.3, hlm.2).

Pensyariatan jual beli ini telah sabit dengan nas al-Quran, hadis dan juga ijmak. Terdapat lebih daripada sepuluh jenis akad jual beli dalam Islam yang boleh berlaku dalam bentuk dan gambaran yang berbeza. Antara jenis-jenis akad jual beli tersebut ialah:

  • Bai’ al-sil’ah bi al-naqd (بيع السلعة بالنقد): iaitu jual beli sesuatu barang dengan mata wang. Jenis ini adalah yang paling meluas berlaku dikalangan manusia. Contonya ialah membeli sehelai baju dengan Ringgit Malaysia atau US Dollar dan seumpamanya.
  • Bai’ al-muqayadhah (بيع المقايضة): iaitu jual beli sesuatu barang dengan barang, seperti menjual baju dengan beg atau menjual binatang ternakan dengan beras dan sebagainya.
  • Bai’ al-salam (بيع السلم): ialah jual beli sesuatu barangan secara tangguh dengan bayaran harga secara tunai, seperti menjual barangan yang telah disifatkan butiran bentuk, spesifikasi, kualiti dan kuantiti secara terperinci dengan bayaran harganya dibuat secara tunai, manakala penyerahan barang ditangguhkan pada suatu masa yang ditetapkan.
  • Bai’ al-sharf (بيع الصرف): iaitu jual beli mata wang dengan mata wang yang sama atau berbeza jenis, seperti menjual emas dengan emas, perak dengan perak atau emas dengan perak, ringgit Malaysia dengan rial Saudi dan sebagainya.
  • Bai’ al-murabahah (بيع المرابحة): iaitu jual beli sesuatu barangan pada harga kos bersama tambahan margin keuntungan, seperti menjual sesuatu barangan berharga RM100 dengan harga kos dan ditambah pula margin keuntungan sebanyak RM10 yang dipersetujui oleh kedua-dua pihak.
  • Bai’ al-wadhiah (بيع الوضيعة): ia adalah lawan kepada jual beli secara murabahah, iaitu jaul-beli yang dibuat atas sesuatu barangan dengan harga yang lebih murah dari harga kos, seperti harga barangan adalah RM10 dan dijual dengan harga RM9 atau lebih rendah.
  • Bai’ al-tauliah (بيع التولية): ialah jual beli sesuatu barangan dengan harga kos tanpa ada lebih mahupun kurang dari harganya. Seperti barangan berharga RM100 dijual dengan RM100.
  • Bai’ al-urbun (بيع العربون): iaitu satu bentuk jual beli dimana pembeli membayar sejumlah wang pendahuluan. Sekiranya jual beli diteruskan maka wang pendahuluan ini akan menjadi sebahagian daripada harga barangan. Jika tidak, maka wang yang ini tidak akan dikembalikan kepadanya.
  • Bai’ al-talji’ah (بيع التلجئة): ialah suatu bentuk jual beli yang dibuat oleh penjual yang dalam kesempitan (terpaksa) kerana kuatir dan takut hartanya diambil oleh orang lain. Bagi menyelamatkan hartanya, ia bersepakat dengan seseoarang bagi menzahirkan akad jual beli dan menyembunyikan tujuannya yang sebenar. Seperti menjual rumah untuk mengelak dari dilelong oleh bank atau permiutang.
  • Bai’ al-wafa’ (بيع الوفاء): iaitu jual beli barangan dengan syarat apabila penjual membayar semula harga barangan yang dijual maka pembeli akan mengembalikan semula barangan yang dijual kepada penjual.
  • Bai’ al-istishna’ (بيع الاستصناع): iaitu jual beli dalam bentuk tempahan perbuatan barang tertentu dengan spesifikasi yang tertentu yang menghendaki penjual, pemaju, pengilan atau orang lain membuatkan barangan yang ditempah tersebut untuk pembeli. 
  • Bai’ al-inah (بيع العينة): iaitu jual beli yang berlaku antara penjual dan pembeli, di mana penjual menjual asetnya kepada pembeli dengan harga tangguh lebih tinggi, kemudian penjual membeli semula aset tersebut daripada pembeli dengan harga tunai yang lebih rendah. Keadaan sebaliknya boleh berlaku.

Kesimpulannya, kepelbagaian bentuk dan jenis-jenis akad, khususnya akad jual beli menunjukkan keunikan sistem muamalat dalam Islam. Kepelbagaian bentuk dan jenis ini tidak lain adalah untuk memenuhi hajat dan maslahah yang diperlukan oleh manusia dalam kehidupan didunia ini. Semoga tulisan ini memberikan manfaat dan panduan kepada kita ke arah memahami akad dan kontrak dalam syariat Islam.

Halal Itu Wajib

Kehidupan kita hari ini yang dihidangkan dengan pelbagai barang makanan, minuman dan barang gunaan menuntut kita berwaspada dan berhati-hati dalam mengguna barangan tersebut kerana masalah halal dan selamat. Justeru itu, kewajipan menggunakan makanan dan barangan halal lagi baik amat penting dalam kehidupan kita seharian.

Allah SWT menjelaskan berhubung perkara ini di dalam surah al-Baqarah ayat 168:

Maksudnya: ” Wahai sekalian manusia! makanlah dari apa yang ada dibumi yang halal lagi baik; dan janganlah kamu ikut jejak langkah syaitan kerana sesungguhnya syaitan itu ialah musuh yang terang nyata bagi kamu. “

Halal

Halal suatu makanan dan minuman itu ada berkaitan dengan sumbernya, cara pemprosesan, premis atau tempatnya. Jika ia berkaitan dengan haiwan, ia hendaklah disembelih mengikut ketentuan Syarak. Manakala haram suatu makanan dan minuman itu, bergantung kepada sumber dan bahannya, cara pemprosesannya dan keadaan premisnya. Misalnya makanan dan minuman yang diproses menggunakan/mengandungi bahan-bahan haram seperti lemak atau daging babi, anjing dan haiwan lain yang tidak disembelih mengikut syarak, darah, arak, najis, racun dan sebagainya.

Umat Islam dituntut supaya mencari yang halal. Mencari yang halal itu adalah wajib. Maknanya umat Islam disuruh mencari kalau ia makanan dan minuman carilah yang benar-benar halal lagi baik, yakni suci, bersih dan berkhasiat. Begitu juga untuk mencari dan memilih restoran, kedai makan dan gerai makan makan carilah dan pilihlah yang benar-benar dijamin halalnya, bersih, kemas dan menyenangkan selera. Ini selaras dengan anjuran Rasulullah SAW dalam sabdanya yang bermaksud: “Mencari yang halal itu adalah wajib bagi setiap orang Islam”. (HR Ibnu Abdil-Barr)

Teramat penting pengusahanya dipastikan adalah orang Islam. Termasuk tukang masak, pembantunya dan penting juga mereka mempunyai sifat-sifat jujur, amanah dan taqwa. Sebagaimana kisah di zaman Khalifah Umar Al-Khattab RA bila seorang pengembala kambing digoda supaya menjual kambingnya, kerana tuan atau taukenya tidak tahu kalau pun dia menjual kambing yang dijaganya itu, tetapi pengembala yang berhati bersih, jujur, mulia dan taqwa itu menjawab: Tidak! Sebah Ada Allah Yang Maha Melihat dan Maha Tahu.

Nilai seorang pengembala yang beramanah, tulus dan bertaqwa itu, jika ada pada para pengusaha restoran, peniaga, tukang sembelih, tukang masak, pekerja, pembantu dan seluruh umat Islam dan manusia.  Pasti  tidak akan timbul lagi penggunaan sijil dan logo halal yang palsu atau telah tamat tempoh oleh kalangan penguasa dan peniaga yang tidak beretika dan bertanggungjawab. Ingatlah pesan Rasulullah SAW dalam sabdanya yang bermaksud: “Semua daging yang tumbuh dari harta yang haram, maka api neraka adalah lebih utama menyiksanya”. (HR At-Tirmizi)

Peringatan Rasulullah SAW ini, relevan sepanjang zaman. Rasulullah SAW amat kasih kepada umatnya supaya kita tidak disiksa oleh api neraka. Mudah-mudahan sikap kewaspadaan umat Islam terhadap halal haram ini akan menyelamatkan kita, anak isteri, ahli keluarga dan umat Islam seluruhnya dari siksaan api neraka. Hidup kita lebih sihat, bersih dan sejahtera. Jika badan sihat, akal dan jiwa akan sihat. Jika jasmani dan rohani kita sihat akan mudahlah kita melaksanakan ibadah dan pengabdian kita kepada Allah SWT. Jika seluruh umat Islam melaksanakan perintah ibadah dan pengabdiannya kepada Allah SWT pasti akan aman, makmur dan damailah alam ini, insya Allah.

Bagi meningkatkan kesedaran masyarakat berkaitan isu halal ini, beberapa faktor perlu diambil perhatian, iaitu:

Pertama : Bidang pengeluaran makanan dan barang gunaan serta perkhidmatan semakin maju. Di kalangan pengeluar berlumba-lumba mengeluarkan barangan dan perkhidmatan masing-masing dengan pelbagai kaedah yang menarik untuk tujuan pemasaran. Hakikatnya ramai di kalangan kita hanya mengetahui sebahagian sahaja daripada status halal, suci serta baik barang-barang makanan atau perkhidmatan yang dijual dipasaran. Masih banyak barangan makanan dan gunaan serta perkhidmatan di pasaran yang kita tidak tahu status halalnya. Sebagai contoh berleluasanya ubat-ubatan yang dikaitkan dengan kekuatan tenaga batin dan rawatan kecantikan yang dijual dikedai-kedai kaki lima. Begitu juga kempen-lempen perniagaan cepat kaya yang beroperasi melalui internet dan kaedah-kaedah biasa. Semuanya ini menuntut kita agar berhati-hati dari terjerumus kepada yang haram dan membahayakan diri.

Kedua : Kebanyakan kita umat Islam menjadi masyarakat pengguna bukan menjadi masyarakat pengeluar. Inilah satu cabaran besar kepada kita dalam menghadapi isu makanan dan barang-barang gunaan. Oleh itu,  menjadi fardhu kifayah kepada umat Islam menghasil dan mengeluarkan bahan makanan dan gunaan serta perkhidmatan untuk kegunaan harian kerana ini akan lebih menjamin kehalalan dan kesuciannya. Di samping berperanan memperkasa ekonomi umat Islam itu sendiri dan sekaligus mengelak pergantungan kepada masyarakat lain. Sesungguhnya inilah tanggungjawab fardhu kifayah yang perlu diperjuangkan secara bersepadu,  berterusan dan bersungguh-sungguh.

Ketiga : Pentingnya kesedaran tentang isu halal ini ialah kerana ia mempengaruhi tingkah laku kita. Kita bimbang jika makanan yang dimakan dan seterusnya bertukar menjadi darah daging adalah dari sumber yang syubhah atau pun dari sumber yang haram akan menjadikan kita manusia yang keras hati,  malas beribadah, sukar menerima kebenaran, sukakan maksiat dan sebagainya. Maka kesudahannya akan menerima padah azab seksa daripada Allah SWT.

Imam al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan sebuah hadith Rasulullah yang menjelaskan hal ini:

Maksudnya: ” Sesungguhnya yang halal itu terang (jelas), dan yang haram itu terang, dan di antara keduanya pula terdapat perkara-perkara yang syubhah (yang tidak terang halal atau haramnya) yang tidak diketahui oleh manusia. Orang yang memelihara dirinya daripada perkara syubhah itu adalah seperti orang yang melindungi agama dan kehormatannya dirinya. Orang yang tergelincir ke dalam perkara syubhah akan masuk ia ke dalam perkara yang haram laksana seorang pengembala dipinggir sebuah tempat larangan, yang akhirnya lalai dan masuk ia ke dalam tempat larangan itu. Adapun bagi setiap raja ada sebuah kawasan larangan dan tempat larang Allah itu adalah segala yang diharamkan. Ketahuilah pada setiap jasad itu seketul daging jika ia baik, baiklah seluruh jasad itu dan sekiranya ia rosak maka rosaklah seluruh jasad itu. Itulah hati.”

Demi menjamin makanan, minuman dan barang-barang gunaan yang kita gunakan halal, suci dan selamat, terdapat beberapa langkah yang perlu dijadikan panduan bersama iaitu:

  1. marilah kita insafi betapa besarnya tuntutan syarak dalam memelihara halal dan haram.
  2. kita wajib memastikan makanan, minuman, ubat-ubatan dan barang-barang gunaan mempunyai logo halal yang sah.
  3. memastikan program-program dihotel adalah hotel yang memiliki sijil halal.
  4. memastikan makan minum hanya direstoran-restoran milik umat Islam.
  5. tidak melibatkan diri dalam sebarang perniagaan dan system transaksi kewanganyang yang mengandungi unsur gharar (tipu) dan riba.

PayHalal sets you free from the bait Haram in every e Payment transactions.

PayHalal payment gateway aims to eliminate all elements of riba (usury), ghrarar (uncertainty) or maisir (gambling) in every ePayment transactions that are undertaken in the eCommerce space.

As Muslims move into the digital world of eCommerce where buying and selling online is rapidly becoming a norm, and payment of goods and services are effected via mobile app payment instruments such as virtual credit cards, eWallet and other innovative schemes, there is a need for Merchants to eliminate as many and where possible all presence of prohibited elements such as riba (usury), Ghrarar (uncertainty) or maisir (gambling) from the way they interact with their Muslim customers digitally.

There is a need to ensure there is fair play, no duress, no dealings with prohibited or haram goods and no trickery in the cashless web and mobile commerce world.

Muslim consumers need certainty that their dealings with Merchants on eCommerce are shariah compliant or not.

As merchants selling to Muslims, it is your responsibility to provide your shoppers with an eCommerce space that is free of riba (usury), gharar (uncertainty) or maisir (gambling).

PayHalal can help Merchants with this. Through PayHalal’s strict merchant onboarding process Merchants will go through strict Shariah and halal audit processes to ensure there are no prohibited elements found in their eCommerce transactions. We believe this will be an added surety for your Muslim shoppers and users.

To learn more about halal and haram in eCommerce transactions speak to us.

Digital Payment Business Developement Manager Wanted !

Who is PayHalal?

We are the global Halal Payment Technology company behind the world’s 1st Sharia Compliant Payments Gateway. We are a vehicle for Halal commerce, a connection to Islamic financial systems. We ensure every employee has the opportunity to be a part of something bigger and ethical. We believe as our company grows, so should you. We believe in connecting everyone to endless, priceless possibilities.

Job Title

Business Development Manager (Digital Payments)Spur our Digital Growth – Join now!

Are you passionate about the future of technology? Do you have a first experiences in developing and selling technology-focused solutions to top tier organizations?

Are you motivated to be a part of driving a world beyond cash? If you have a strong desire to effect change and be at the forefront of innovation the International Account Management Team at PayHalal is eager to hear from you.

The Digital Business Development at PayHalal is establishing a strong digital footprint in the Halal market in combination of technology and strategic partnerships. Digital is fundamental in serving the Halal partner segments, and in opening doors to partnerships with that help broaden our footprint.

PayHalal operates the world’s 1st Islamic Payment Gateway, with an aim to saturate our service to over 37 countries by 2026. Over 540 million Muslim consumers will be using our products every day, everywhere and we want use our technology and expertise to make those transactions halal,safe, simple and smart. That’s has never been more exciting than today.

But there is more. We truly believe that we have to contribute to a sustainable future in everything we do. Our global efforts involve advancing corporate sustainability programs, conducting business in an open and transparent way and promoting environmental stewardship in our business and beyond.

What we look for:

Manager Account Management

The Manager Digital Halal eCommerce Development will be responsible for the formation and execution of a country wide strategy for accelerating PayHalal digital acceptance development for E / Mobile commerce merchant network in the online and POS space.

The role includes overseeing PayHalal’s localized product for e/m commerce and Go-to-Market plans, setting overall strategy and framework and leading product integration efforts. The position requires leadership, business acumen, market insights as well as strong subject matter expertise in digital Islamic payments-related products in order to help deliver digital products and solutions suiting the local market needs.

Besides being a self-starter that easily connects with our partners you need to have a technological mindset and the willingness to go the extra mile with our clients to create compelling Islamic payment solutions.

Things you do:

  • * Manager Account Management
  • * Build trusted relationships with our international clients! Identify key merchant relationships across Digital Halal business & partnerships
  • * Build compelling solutions! Be responsible for the design, launch and management of our overall integration approach and work with the product managers on the product roadmap to fit the market needs.
  • * Develop and implement a country-wide go-to-market plan, including product positioning, key benefits, and target customer for the Local digital solutions
  • * Proactively manage new partnership idea pipeline that anticipates and/or responds to merchant, acquirer and eco system stakeholder needs, market trends and competitive threats
  • * Create business cases, implementation, end to end operational and support processes, and product roadmaps for concepts under development
  • * Manage program constructs in the market, packaging the findings and enabling acceptance teams to scale the outcome
  • * Close & Scale! Ensure growth and tactical targets are reached
  • * Continuous development and execution of strategic framework for the German market
  • * Background in technology / e-/m-Commerce
  • * Location: Kuala Lumpur, Singapore, Jakarta and Brunei
  • Things we expect from you:
  • * Experience in fast paced, technology centric environment including Payments, e-commerce, Retail, Financial Services and/or Consulting
  • * Curiosity, can-do attitude, agility, creativity and a real team player
  • * Results-oriented and customer-focused self-starter: Track record in achieving business development targets and building customer relationships through customer sales
  • * Proven ability to develop sustainable business relationships in diverse environments and track record of successful sales
  • * Strong communication skills and ability to act in matrix environment
  • * Ability to understand and execute on key operational aspects, and attentive to details
  • * Business acumen with the ability to create solutions that meet real customer needs
  • * Experience in leading & developing a team to achieve high performance
  • * Track record of relationship management and negotiation skills
  • * Strategic thinking and outstanding communication skills on all levels
  • * Fluent English, Bahasa Malaysia, Indonesia or Mandarin, more languages are better
  • * A strong team player with great interpersonal and cross-cultural skills
  • * Fluency in English – written and spoken
  • * And yes, a MBA or bachelor
  • * You will be based in Kuala Lumpur and will need to travel
  • Email your CV to pat@payhalal.my